Sumatera Utara – Musibah bertubi-tubi menerjang sejumlah kabupaten di Sumatera Utara, meninggalkan catatan pilu. Selain korban jiwa yang angkanya terus merevisi, bencana ini juga menciptakan gelombang pengungsian yang signifikan. Ratusan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang hanyut, rusak, atau terancam bahaya susulan.
Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya fasilitas sanitasi dan air bersih, yang berpotensi menimbulkan krisis kesehatan baru. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi seperti ini. Mereka membutuhkan perhatian dan perlindungan ekstra di tengah ketidakpastian.
Trauma psikologis yang dialami korban, terutama anak-anak, juga perlu menjadi perhatian serius dalam fase pemulihan. Bantuan dari pemerintah dan lembaga sosial mulai menjangkau pengungsi, meski belum merata. Makanan, air minum, dan obat-obatan adalah kebutuhan paling mendesak yang harus segera dipenuhi.
Relawan kesehatan bekerja keras untuk memberikan layanan medis dan mencegah terjadinya gizi buruk pada anak-anak. Pemda setempat tengah menginventarisir kerusakan rumah dan infrastruktur sebagai dasar untuk program rekonstruksi. Proses pemulihan pasca bencana dipastikan akan berlangsung dalam tahapan yang sistematis.
Rehabilitasi infrastruktur publik menjadi prioritas untuk mengembalikan aktivitas masyarakat ke kondisi normal. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlanjut. Pemerintah menginstruksikan warga di daerah rawan untuk mengungsi lebih awal jika diperlukan.
Baca Juga: Genangan Di Daan Mogot: Analisis Kondisi Drainase Dan Solusi Jangka Panjang Untuk Jakarta
Tag:
Penulis: Seraphine Claire