BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2025 4,8%-5,2% Di Tengah Kebijakan Moneter Ketat

Rabu, 24 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Mochtar Lubis
Fundamental ekonomi domestik yang kuat diyakini dapat mendukung ketahanan pertumbuhan ekonomi meski dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi pasca keputusan RDG Desember 2024.

Jakarta – Optimisme terhadap ketahanan perekonomian domestik tetap tinggi di kalangan pembuat kebijakan moneter. Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2024, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 akan berada dalam kisaran 4,8% hingga 5,2%. Proyeksi ini menunjukkan keyakinan bahwa ekonomi akan tetap tumbuh solid meskipun BI baru saja menaikkan suku bunga acuan.

Kenaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 7,00% dipandang sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi jangka panjang. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi, yang pada akhirnya akan menciptakan landasan yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dukungan utama bagi pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan bersumber dari permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga diproyeksikan tetap tangguh, didukung oleh kondisi pasar tenaga kerja yang membaik dan tingkat kepercayaan konsumen yang terjaga. Selain itu, investasi juga diperkirakan tetap solid, seiring dengan terus berlanjutnya realisasi proyek-proyek strategis nasional dan peningkatan iklim usaha.

Baca Juga: Proses Ketat Di Balik Akreditasi Global EFMD-CLIP Untuk IFG Corporate University

Untuk tahun 2024, kinerja ekonomi juga menunjukkan tren positif dengan proyeksi pertumbuhan pada kisaran 4,9% - 5,3%. Konsistensi pertumbuhan ini mencerminkan resilience perekonomian Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk perlambatan ekonomi dunia dan volatilitas pasar keuangan internasional.

Di sektor eksternal, kondisi juga mendukung stabilitas pertumbuhan. Neraca transaksi berjalan (current account) diperkirakan tetap surplus, didorong oleh membaiknya neraca perdagangan barang. Kinerja ekspor non-migas yang tetap kompetitif dan stabilnya permintaan impor seiring aktivitas produksi dalam negeri berkontribusi pada outlook neraca pembayaran yang sehat.

Inflasi domestik yang terkendali juga menjadi faktor pendukung penting bagi daya beli masyarakat dan iklim investasi. Inflasi inti untuk tahun 2025 diproyeksikan tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, yaitu 1,5% - 3,5%. Meski demikian, BI tetap mewaspadai risiko inflasi dari faktor administrasi harga dan komoditas pangan global yang dapat mempengaruhi stabilitas harga.

Bank Indonesia menegaskan bahwa kebijakan moneter yang ditempuh akan terus terkoordinasi dengan kebijakan fiskal dan sektor keuangan. Sinergi dalam Kerangka Kebijakan Makroekonomi dan Sistem Keuangan (KKSK) ini diharapkan dapat mengoptimalkan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan.

Dengan fundamental yang kuat dan koordinasi kebijakan yang solid, perekonomian Indonesia dipersiapkan untuk menghadapi tahun 2025 dengan optimisme yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan dan siap menyesuaikan kebijakannya untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

(Mochtar Lubis)

    Bagikan:
komentar