Bulog Rugi Rp 900 Miliar, Usul Kenaikan Margin Ke 10% Untuk Keberlanjutan Operasi

Selasa, 30 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Mochtar Lubis
Tekanan keuangan yang besar akibat margin tetap Rp 50/kg selama belasan tahun mendorong Bulog mengajukan kenaikan margin, dengan harapan dapat menutup kerugian dan mendanai revitalisasi aset yang vital. (Foto: detikcom/Aulia Damayanti)

Jakarta Selatan - Tekanan keuangan yang berat sedang membayangi Perum Bulog. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya mencatatkan kondisi minus atau kerugian yang diproyeksikan mencapai hampir Rp 900 miliar. Situasi ini menjadi pendorong utama di balik usulan resmi untuk menaikkan margin fee dari pemerintah.

Rizal menekankan bahwa kerugian tersebut terjadi dalam konteks margin yang diterima Bulog dari pemerintah tetap stagnan di angka Rp 50 per kilogram (kg) untuk beras, tanpa ada perubahan sejak tahun 2014. Padahal, dalam periode yang sama, biaya operasional, logistik, dan kompleksitas penugasan justru terus meningkat. Margin yang kecil ini dinilai tidak lagi mencerminkan beban riil yang ditanggung perusahaan.

Mekanisme pembayaran yang berlaku turut memperparah kondisi cash flow. Pemerintah membayar margin kepada Bulog setelah penugasan penyaluran beras selesai dilaksanakan. Sementara itu, untuk membiayai pengadaan beras dari petani, Bulog terlebih dahulu harus meminjam modal dari bank-bank BUMN, yang tentunya terkena beban bunga. Skema ini menciptakan gap keuangan yang sulit ditutup jika margin akhirnya kecil.

Baca Juga: Proses Ketat Di Balik Akreditasi Global EFMD-CLIP Untuk IFG Corporate University

Oleh karena itu, usulan menaikkan margin menjadi 10% diajukan sebagai solusi untuk mengembalikan kesehatan dan keberlanjutan operasi Bulog. Rizal memproyeksikan bahwa dengan margin 10%, Bulog berpotensi memperoleh keuntungan hingga Rp 2,1 triliun. Angka ini merupakan lompatan yang sangat signifikan dari perolehan margin saat ini yang hanya sekitar Rp 150 miliar.

Dana sebesar itu dirancang untuk dimanfaatkan pada sektor-sektor yang selama ini terbengkalai akibat keterbatasan anggaran. Prioritas utama adalah mencapai kemandirian finansial sehingga Bulog tidak lagi selalu bergantung pada injeksi dana pemerintah untuk setiap keperluan revitalisasi aset, seperti pembangunan atau perbaikan gudang penyimpanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, peningkatan margin diharapkan dapat mendanai pembaruan infrastruktur pascapanen dan penguatan sistem logistik pangan nasional secara keseluruhan. Penguatan di bidang ini merupakan fondasi penting untuk mendukung program strategis pemerintah, termasuk yang tercantum dalam visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Rizal menegaskan bahwa usulan ini bukan semata-mata untuk keuntungan perusahaan, melainkan sebuah kebutuhan strategis. Tanpa koreksi terhadap skema margin, kemampuan Bulog dalam menjalankan tugas pokoknya sebagai penstabil harga dan penyalur bantuan pangan pemerintah ke depannya bisa terancam.

Dengan kata lain, usulan kenaikan margin ini merupakan upaya untuk menyelamatkan dan sekaligus menguatkan institusi yang menjadi pilar ketahanan pangan Indonesia. Keputusan pemerintah nantinya akan menentukan apakah Bulog dapat terus beroperasi secara sehat dan efektif dalam menjamin ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi seluruh rakyat.

(Mochtar Lubis)

    Bagikan:
komentar