Jakarta, Indonesia - Aspek teknis dan perencanaan menjadi sorotan utama dalam kunjungan kerja perdana Presiden Prabowo Subianto ke lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Berbeda dengan kunjungan seremonial semata, Presiden terlibat dalam peninjauan mendetail dan memberikan berbagai koreksi langsung berdasarkan pengamatannya di lapangan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa koreksi tersebut mencakup dua aspek fundamental, yakni desain dan fungsi dari berbagai infrastruktur yang sedang dibangun.
Pemberian koreksi ini, menurut Prasetyo, memiliki tujuan yang konstruktif dan visioner, yaitu untuk perbaikan dan percepatan proses pembangunan secara keseluruhan. Presiden menginginkan agar fasilitas-fasilitas yang dibangun tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga benar-benar dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan optimal sebagai penunjang ibu kota negara yang modern dan berkelas dunia.
Salah satu fokus koreksi Presiden diduga kuat berkaitan dengan kesiapan dan perencanaan fasilitas untuk lembaga tinggi negara. Hal ini sejalan dengan instruksinya yang telah berulang kali disampaikan, untuk mempercepat pembangunan gedung lembaga legislatif (DPR/MPR) dan yudikatif (Mahkamah Agung dan lembaga peradilan lainnya). Presiden menargetkan kompleks tersebut dapat digunakan pada tahun 2028, agar fungsi politik sebagai ibu kota dapat segera berpindah.
Baca Juga: Dua Belas Inovasi Daerah Jawab Tantangan Global Di Kompetisi Guangzhou Award 2026
Koreksi terhadap desain kemungkinan besar menyangkut aspek arsitektur, tata ruang, efisiensi energi, integrasi dengan lingkungan alam Kalimantan, atau aspek teknis lainnya yang hanya dapat diidentifikasi dengan jelas melalui peninjauan langsung. Presiden ingin memastikan bahwa desain IKN tidak hanya megah secara visual, tetapi juga praktis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan operasional pemerintahan di masa depan.
Sementara koreksi terhadap fungsi mungkin mencakup penataan zonasi, interkoneksi antar gedung, sistem transportasi internal, serta kesiapan infrastruktur pendukung seperti utilitas dan teknologi digital. Prabowo ingin memastikan bahwa IKN akan menjadi kota yang cerdas, terhubung, dan efisien sejak hari pertama dioperasikan, bukan sekadar kumpulan gedung-gedung mewah.
Langkah proaktif Presiden dengan memberikan koreksi teknis ini menunjukkan gaya kepemimpinan yang hands-on dan detail-oriented. Ia tidak hanya memberikan mandat umum, tetapi turun langsung untuk memeriksa dan mengarahkan. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan desain atau perencanaan yang berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran atau penundaan di kemudian hari.
Respons dari Otorita IKN pimpinan Basuki Hadimuljono terhadap koreksi ini akan menjadi ujian berikutnya. Kecepatan dan ketepatan dalam mengimplementasikan masukan dari Presiden akan menunjukkan tingkat koordinasi dan efektivitas lembaga tersebut di bawah pemerintahan yang baru. Hal ini juga akan menentukan apakah target ambisius tahun 2028 dapat dicapai dengan kualitas yang diharapkan.
Dengan memberi koreksi langsung, Prabowo telah menetapkan standar kualitas dan arah baru bagi pembangunan IKN. Kunjungan ini menandai babak baru di mana proyek raksasa tersebut akan dikerjakan dengan presisi dan kecepatan yang lebih tinggi, di bawah pengawasan ketat dan arahan teknis langsung dari pucuk pimpinan negara.