Jakarta – Kementerian PANRB mendorong dua belas inovasi pelayanan publik berbasis daerah untuk bersaing di Guangzhou Award 2026, menunjukkan bahwa solusi lokal Indonesia memiliki relevansi dan dampak yang signifikan terhadap tantangan global. Inovasi-inovasi ini merupakan representasi nyata dari upaya Indonesia mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan New Urban Agenda.
Inovasi seperti “Intervensi Nutrisi Tumbuh Kerjar Berkelanjutan Atasi Stunting (IBUK ANTING)” dan “Kartu Digital Sungai Rumbai Sehat Untuk Eradikasi Stunting” fokus pada pengentasan stunting, isu kesehatan global yang krusial. Sementara “Strategi Pembentukan Kampung Iklim (SUPERMIE)” dan lainnya menunjukkan komitmen dalam aksi mitigasi perubahan iklim.
Keberagaman tema inovasi ini, yang juga mencakup pemberdayaan UMKM melalui “Hari Belanja Cantik” dan efisiensi pelayanan melalui “Baca Meter Mandiri”, mencerminkan pendekatan holistik Indonesia dalam pembangunan. Hal ini sejalan dengan misi Guangzhou Award yang mencari inovasi yang meningkatkan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan secara simultan.
Baca Juga: Prabowo Beri Koreksi Desain Dan Fungsi IKN Dalam Kunjungan Kerja Perdana
Deputi Otok Kuswandaru menyatakan bahwa keikutsertaan inovasi-inovasi ini adalah bentuk pengakuan atas capaian daerah sekaligus upaya untuk mengangkatnya ke permukaan internasional. “Fasilitasi menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan capaian inovasi pelayanan publik Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.
Ahli branding strategis Mochamad Badowi menambahkan bahwa untuk go international, sebuah inovasi harus menunjukkan dampak sosial yang nyata, yaitu perubahan hidup warga. Fokusnya bukan pada kecanggihan teknologi, tetapi pada seberapa besar manfaat dan inklusivitasnya bagi masyarakat luas.
Poin krusial lainnya adalah kemampuan inovasi untuk diposisikan sebagai model percontohan dunia. “Inovasi yang dilakukan di Banyuwangi atau Bantaeng harus bisa dijadikan model di Eropa, Tiongkok, atau Australia. Kita harus berpikir global,” tegas Badowi. Ini berarti inovasi tersebut harus mudah ditransfer dan diadaptasi di berbagai konteks.
Innovation Practitioner Budi Chairuddin menyebut kriteria “dapat ditransfer” sebagai salah satu elemen penting dalam penilaian. Sebuah inovasi yang baik harus dapat diadaptasi oleh Unit Pelaksana Pelayanan Publik (UPP) sejenis atau dalam konteks wilayah yang berbeda, sehingga manfaatnya dapat diperluas.
Dengan mempersiapkan inovasi daerah menuju standar global, Indonesia tidak hanya berkompetisi untuk meraih penghargaan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam percaturan pemecahan masalah perkotaan dan pembangunan berkelanjutan di dunia. Setiap inovasi yang dikirim membawa pesan bahwa solusi efektif seringkali berawal dari akar rumput.